U Turn?


 
Sebenernya nda pernah kepikiran bakal bisa mengambil jalan yang seperti ini. Terus menerus aku tekankan ke diri sendiri, ini yang terbaik, ini yang harusnya dilakukan manusia yang sudah dewasa. Sudah waktunya kamu sadar tanpa basa basi lagi, ini bukan sekedar permainan lagi. Waktu yang kamu niilai tidak terhingga harganya itu sudah tidak bisa dipermainkan lagi. Karena pada akhirnya lebih baik sendiri dalam kepompong hingga benar-benar matang, dari pada berlarian bebas dengan dalih ingin mematangkan diri. And this how things end up.

Aku tak seharusnya menyesal atau terpikirkan untuk merasakan itu, aku terus memaksa dalam hati “kamu harus bangga, kita harus bangga, dan  ku rasa dia juga bangga.” Ucapku dalam hati setiap harinya, setiap aku pandangi layar smartphone tanpa ada tujuan. Tapi kadang aku kalah dan aku akui aku rindu tanda pemberitahuan yang membeludak itu, tulisan panajng yang setiap balasannya di balas dengan berpikir dan tidak sembarangan, yang ketika ingin ku balas tidak mungkin selesai dalam 5 menit, yang kalau otak ku belum siap, di seberang tidak keberatan sama sekali kalau aku balas tumpukan diskusi tanpa arah itu satu pekan setelahnya.

Aku berhasil melepas orang yang penting untuk ku untuk ke-3 kalinya tahun ini. Setelah mantan tunangan dan Ayah kandungku, aku melepas orang yang aku pikir waktu itu… bisa jadi orang yang lebih tepat untuk sisa usiaku. Well, mungkin setelah melepas tiga orang seperti ini aku jelas akan lebih kuat di kemudian hari. Mungkin perasaanku yang meminta lalu aku berusaha menyanggupinya, bagaimana aku mengingatnya, rasanya aneh, karena sekarang rasanya tidak semudah kemarin. Apa karena tidak ada yang tahu soal dia, lalu tidak perlu ada senyum-senyum palsu yang aku pasang di depan orang-orang yang aku tahu? Tapi semua senyum palsu itu sungguh membantu, membuatku terbiasa tersenyum dan akhirnya perasaanku yang mengikuti, tapi karena tidak perlu berusaha tersenyum, mungkin itu yang membuat kali ini terasa begitu berbeda.


Panda…
Panda Laut, begitu nickname yang sekarang rasanya melekat padaku, yah walau Panda Nganggur rasanya lebih cocok untuk 6 bulan terakhir ini. Karena faktor internet di kapal mahal, ig mulai menjadi platform yang “nah” buat aku, twitter jadi pelarian, sebenarnya udah mulai balik ke sana semenjak semester-semester akhir karena nda ngerti, lebih asik aja buat meluapkan, menyampah, karena emang isinya nda rame, kebanyakan pada sibuk tebar kebahagiaan di ig, jadi buat yang pengen teriak-teriak rasanya di sana enak aja. Well, tapi setelah teriak-teriak tanpa arah, aku menemukan sisi lain twitter yang nda cuma professional jadi tempat sampah, tapi sudah layaknya web berita yang isinya, hampir bisa di atur semuanya sendiri. Yah karena,… siapa juga yang bisa ngatur apa yang orang ingin katakan yekan.

Mungkin semua dimulai dari betapa sok edgy sebuah percakapan di twitter junior dan diriku di masa itu, dengan berlagak full English, aku masih ingat percakapan waktu itu membahas bagaimana taruna atau seorang murid. Well, karena pada dasarnya nyampah dan ngga pengen semua orang terganggu jadilah nyampah pakai Bahasa inggris, jadi mungkin kita bukan sok edgy, cuma pemakaian Bahasa inggris yang tidak pada tempatnya saja. Wahai Mam di Unit Bahasa maafkanlah kami.

Satu balasan ku waktu itu ku rasa cukup, aku jadi sering lihat tweet mereka sliweran di TL, bahas hal-hal absurd dengan b.ing yang masih enak untuk di ikuti. I feel relieved that my junior this absurd being specially got this kind of partner, I feel a bit envy since he got such an absurd discussion partner. So decide to step aside, and hoping the end up as happy couple later. Sampai akhirnya that retweet. Sebuah argument menggelitik yang somehow beneran masuk akal. Tergerak me-retweet tweet juniorku itu, aku berakhir di mention untuk ikut nimbrung. HELL WHY GURL? Ternyata setelah ikut berabsurd bersama, aku yang habis patah hati harus berhenti menggeneralisasikan manusia lain. Tidak semua orang sedang berusaha mencari yang baru agar bisa berpindah sepertiku. Maka mencari teman setidak jelas ini juga mungkin perlu. LOL

Singkat cerita akhirnya Semarang memanggil karena di liburan pelaut masih ada kerjaan yang harus di lakukan, and I end up meet my friends which come from same company. Perusahaan boleh sama, tapi karena kita ada di tahun yang sama, kemungkinan dapat penempatan kappal yang sama sangatlah kecil, jadilah rencana hang out. Think again by how fluent her English, dan bagaimana temen-temen yang dengan fasih b.ing di unit juga ngerti (walau hanya beberapa) tempat untuk “ngopi”. Karena kebetulan aku berpikir mahasiswa pengetahuannya masalah begini lebih luas, bertanyalah aku padanya lewat DM. Rather than direct answer, she gave me a threat full of those place. LOL, it was really helpful that time.

Then we (three of us) had more absurd discussion over mention again. LOL, I can’t see this will stop anytime soon. Sampai pada saatnya aku melihat sebuah… apa ya? Mungkin karena terlalu self-centered, aku berpikir perkataanku membuat ketidak-pede-an dia makin parah. I called her “receh dude”, dude, like DUDE… melihat tweet nya setelah itu aku merasa bersalah. Lalu, aku mencoba ngajak dia ngopi, yang jelas dia tidak suka, jahe juga sama aja, lalu McD yang di tolak mentah-mentah. Like wooow… I am being rude, for sure. I thought.

Then our discussion changed, a lot. Pada awalnya I tried so hard to prove what I said was wrong and she’s okay as what she is. Sampai pada akhirnya obrolan berlanjut hal-hal ada atau tidaknya saja tidak ada pengaruhnya sama umat manusia. Aku yang merasa bersalah karena “shit, chatting sama gebetan junior sendiri is a big NO.” sampai akhirnya I know that she’s older than me, and ofc juniorku juga. Lucunya juniorku tidak tahu pada saat itu, LOL. Well, jurusan yang dia ambil lebih complicated dari kebanyakan jurusan yang ada. Well, I don’t know nor remember why we start talking about our privacy in the first place.

Karena layanan app twitter yang somehow sangat buruk di divisi notivikasi, aku yang jarang pegang smartphpne (hey I love my Switch more okay) we got tired. Dan memutuskan pindah Wa, like… wait… bukankah dia sangat concern soal privasi, tapi kenapa malah pindah wa. Berusaha positif thinking, mungkin aku terlalu absurd buat di lepas dan nda di ajak ngobrol. LOL

It was a long reply every time she replied. Oke nda panjang-panjang banget, Cuma… numpuk. Lol, those notification will cover at least 5 new message which increased over time. Aku menemukan seorang temen ngobrol yang membuatku merasa di butuhkan tapi tidak direbetkan secara bersamaan. Receh dan dewasa saat diperlukan. It’s about timing dan seberapa siap buat menjawab, bukan seberapa cepat dan sering kita saling membalas. What the hell, how came this girl even exist, like… it is a miracle. LOL again. Dan rasanya bener-bener di hargai karena dibiarkan beberapa hal yang tidak banyak orang tau. Like… those words that she said to me back then was, HAH! Now you’re the one who did it, LOL, but I share things that not all of my close friend know about them.

I finally I realized that things changed. Dulu dia yang harus nunggu karena game, but now my game wait me to replies those chat, lol. You should proud if you made me pause my game for you. Tried to keep her away for one weeks, and I missed her, she knew then text me first. Like why? I want to text you eventually later but she successfully made my heart beating so fast that morning. Learnt that this kind of feeling is “haram’ like hell yeah it is legit “HARAM!” I choose to put her aside and confess at the same time.

So… this is a U turn for us? Or… a separate ways which we took with wish in heart that this junction will meet again someday. At least that’s how I wish about it. And wishing that you’ll wish the same thing will just made me hoping even more, which I don’t it to be happen to me. Because putting our hope at human it’s just… unbearably hurt.

Comments

  1. For the first time ever someone writes about me, feel so appreciated, thanks.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pejuang Ombak