Pejuang Ombak

Pelaut itu Playboy, istrinya di setiap pulau, nakal dan sering main dengan yang barang-barang haram.

Hanya itu semua yang kalian dengar?
Bagaimana dengan pelaut yang tidak bisa pulang di saat orang tuanya sakit dan tidak bisa menemani mereka di detik-detik terakhir hidupnya?

Bagaimana dengan pleaut yang tidak bisa berada di samping istrinya saat melahirkan anak pertama mereka?

Bagaimana dengan pelaut yang bekerja tanpa henti jauh di tengah lautan hanya untuk kembali ke rumah tanpa cinta?

Bagaimana mereka yang telah mengikat janji namun dikalahkan oleh jarak dan keadaan?



Hai, aku pelaut.

Dan... aku tidak sepenuhnya bangga dengan apa yang aku lakukan sekarang. Ada banyak factor yang jelas mendorong kenapa aku bisa sampai berbicara seperti itu. Yang kalua ditulis semua enggak bakal bisa jadi buku, tapi terlalu Panjang untuk jadi cerpen atau sekedar psotingan blog. Ambil contoh utamanya… passion ku yang sedari dulu bukan untuk pergi jauh dari rumah lalu dapat uang banyak. Tunggu, bukannya itu terdengar sangat menggiurkan? Dapat kerja kan? biar jauh dari rumah tapi kan gajinya besar. Iya, saat nggak punya uang aku juga berpikir seperti itu, yang penting kerja dan dapat duit dulu, nabung, lalu buka usaha yang sesuai dengan passion kita.

Nyatanya mimpi itu memang sangat manis. Iya, jangan kamu samakan dengan kenyataan, nanti rasanya jadi pahit atau bisa sampai perih.

Jadi pelaut yang gampang kangen orang rumah, atau sudah tercemar dengan virus internet dan tak bisa lepas dari belenggu yang nyamain belenggu setan ini… berat. salah sih, tepatnya mahal. Iya kantong karyawan fresh graduate di perusahaan-perusahaan standar local nggak bakal kuat.

Terus kami kuat?

iya, kuat. Tapi sambil menjerit.

Menghabiskan isi dompet dengan harga internet yang perbulannya setara dengan jatah hidup karyawan di Jakarta setiap bulannya. Iya disana dengan jatah segitu udah bisa bayar kost-kostan dan tetek bengek setiap bulannya, kami habiskan itu untuk internetan. ohya, biar lebih dramatis jadikan "internetan saja".

Untungnya ketika di kapal, makan dan tempat tinggal kami di sediakan.

Lah kalau gitu, sama aja dong, harusnya pelaut punya uang lebih buat di tabung dong.

Nampaknya kata SEWAKTU DI KAPAL harus di tekankan lebih dalam lagi ya. Iya, jadi waktu liburan… iya namanya liburan, yang jadwalnya nggak sama dengan manusia darat kebanyakan. Kita libur, orang rumah nggak libur. Mau ngajak jalan2 adek malah mau ulangan. pusing. Sisa uang dari kapal larinya kemana dong kalo nggak buat jalan-jalan?

Hidup, tepatnya bertahan hidup. yang dialami para karyawan fresh graduate itu kami rasakan sekarang sewaktu libur. Bedanya kami nggak perlu di kejar alarm buat bangun pagi dan sumpel-sumpelan di kendaraan umum, atau berjuang di bawah terik macetnya ibu kota. iya, terik macet. udah macet sumpek panas lagi. Kasian bener dah.

Pada akhirnya… hasrat miskin yang terpendam selama ini meledak ketika melihat gaji yang tak tersalurkan secara menyeluruh dikapal. Alih-alih bersikap dewasa, membuat prioritas, manabung, lalu memakai sisanya untuk bertahan hidup… Khilafku memenangkan tabunganku…

Hai aku pelaut, simpanan ku banyak, iya simpanan mainan yang ku beli dari jerih payah kerasku di atas kapal!

Heran, kok bisa-bisanya mikir aku sempet mikirin perempuan.

*disclaimer: mood swing mengakibatkan arah dan isi pemikiran dapat berubah drastic. So jangan kaget dengan tulisan yang bakal naik turun di masa yang akan datang. Ciao!

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

U Turn?