Enggan


Rasanya berubah dan berebda, dari hari-hari biasa yang ku jalani sekitar 5 sampai 6 tahun lalu. Masih bertengkar rasanya nuraniku, haruskah kutulis ini atau tetap ku pendam dalam hati.

Hi

Aku pelaut yang mengaku berbeda dari pelaut kebanyakan, yang kalian pandang sebelah mata dan penuh hal negative, aku berharap aku tidak di pandang seperti itu karena aku merasa tidak begitu.

Hi

Aku bukan yang itu, yang macam pelaut yang engkau pikir hidupnya penuh dengan kemewahan dan foya-foya akan hal negative. Aku punya hidup yang lain, yang tak kutunjukkan karena kau pun tak peduli.




Aku berusaha, selalu berusaha berfikir positif sehingga setiap terjadi hal-hal yang kata orang lain “negative” aku bisa terjang dengan raut muka “aku gpp” secara harfiah. Iya aku ingin bukan “aku gpp” yang mendem sejuta gondok tapi diiringi sejuta harapan ingin dimengerti. Ku mohon jangan tersinggung. Tapi kurasa teori yang mengatakan orang-orang yang paling banyak menebar senyum sebenarnya menyimpan paling banyak menyimpan kesedihan rasanya tidak salah sama sekali. Jadi tiap ada masalah, aku selalu ingat teman… wait beberapa kenalan tapi kebanyakan teman beneran. Teman-teman yang lebiuh ceria dari aku di depan umum. Aku ngebayangin gimana berat beban hidup yang mereka simpan sampai melampiaskannya dengan menjadi orang yang semenyenangkan itu di depan orang lain.

Tapi here we go… sebagai orang yang punya muka berbeda di sertiap depan orang… (semoga ini diaanggap adaptif ketimbang munafik.) terlepas bagaimana anda mengenal saya atau tidak sama sekali.
I parents got divorced

Classic. Seperti bagaimana kisah cintaku yang kandas saat aku dilaut. Yang ternyata banyak pihak yang akhirnya mensyukurinya karena melihat kondisi bagaimana kondisi keluarga yang sekarang. Ya… aku merasa senang dan fine saat tau kalua aku melepas sebuah beban besar untuk keluargaku. Tapi disaat yang bersamaan aku merasa mengkhiatani diriku sendiri karena berhasil senang dikeadaan hati yang dalam kondisi… aku tak bisa bilang hancur, mungkin tepatnya hati yang seharusnya hancur. Tapi aku tidak merasa hancur sehancur-hancurnya.

Aku merasa lebih sedih karena pada akhirnya aku tidak bisa sesedih itu atas semua hal yang terjadi. Aku selalu terbayang, di hari orang tua ku meninggalkan ku untuk selama-lamanya mungkin di hari itu aku tidak akan menangis. Karena bingung? Tapi harusnya tidak ada yang harus dibingungkan. Saat kamu ditinggalkan orang tua mu untuk selama-lamanya harusnya kamu sedih dan menangis. Titik. Dan kamu tidak mungkin dikatakan manusia yng berkeperimanusiaan jika tidak bisa melakukan itu. Tapi bayangan yang dimana aku tergambar berdiri kaku tanpa emosi, pandangan kosong terus muncul. Seperti apa yang terjadi sekarang? Aku tidak bisa menjadi emosional melihat ibuku menangis dikhianati manusia yang harusnya menjadi panutanku untuk tumbuh dewasa. Ayahku.

Seketika aku alergi mendengar pulau dewata, pulau para dewa, surge untuk libura, bahkan pulau ini lebih terkenal daripada negaranya sendiri. Banyak crew kapal yang tidak tahu soal Indonesia, tapi saat ditanya Bali. Dengan bangga mereka berkata tahu, siapa yang tidak tahu kata mereka. Iri aku melihat orang-orang yang masih melihat pulau ini secara positif, karena pulau ini sendiri yang meninggalkan kenangan yang pahit. Untuk kami yang hari itu pergi dengan Bali di punggung. Aku sempat berbisik pada diri sendiri bahwa sungguh, aku tidak sudi menginjakkan kakiku disana lagi. Tidak akan lagi.

Hal yang dilakukan suami… mantan suami ibuku ini menghantuiku bukan sebagai anak. Tapi sebagai laki-laki. Membuatku berpikir lagi, berkali-kali jika ingin mulai mencintai seseorang lagi. Bisakah nanti aku jaga dia? Agar tak ku lihat lagi tangisan wanita yang ada di sampingku seperti bagaimana ibuku menangis. Mungkin ini salah satu pemandangan yang membuatku ingin buta saja. Memintanya sabar dan tabah hanya akan menambah beban, yang bisa kulakukan hanya diam dan bertingkah tak terjadi apa-apa saat ibuku menangis. Karena aku sadar, tangisnya yang tersembunyi itu juga karena tak ingin terlihat olehku. Terus bagaimana bisa aku menjaga perasaan wanita yang nanti aku jadikan pasangan hidup?

“bukannya dengan begitu kamu bakal lebih dewasa?” itu yang aku dapat, tapi tidak sesederhana itu nampaknya. Seandainya perasaan lawan jenis ini bisa dengan mudah ku mengerti, seandainya perasaan cinta datang dengan permisi, seandainya menjaga komitmen itu tidak berat untuk manusia yang mudah bosan, seandainya… seandainya aku memulai dan berhenti berandai. Sungguh, aku enggan dengan diriku yang sekarang.

Comments

Popular posts from this blog

Pejuang Ombak

U Turn?